Angka pengangguran dipublish Badan Pusat Statistik (BPS) dua kali dalam setahun. Semester pertama menggambarkan kondisi pengangguran di bulan Februari. Semester kedua menggambarkan situasi pengangguran di bulan agustus. Angka pengangguran merupakan salah satu “rapor” pemerintah dalam memenuhi janji kampanye menyediakan lapangan pekerjaan.

Angka pengangguran nasional (Indonesia) 8,40 persen. Sementara itu angka pengangguran di Papua Barat lebih tinggi lagi, 9,30 persen. Di bandingkan kondisi Agustus 2007, angka ini menunjukkan kenaikan 14,17 persen dan naik 2,98 persen dibandingkan kondisi Februari 2007.

Meskipun angka pengangguran tergolong tinggi, namun tingginya angka pengangguran belum menjadikan para pemimpin bangsa ini “gerah”. Bandingkan dengan Jepang, angka pengangguran 4 persen saja membuat perdana menteri malu hingga mengundurkan diri.

Tidak mudah menciptakan lapangan pekerjaan di saat negara masih dikungkung krisis, ya krisis ekonomi ya krisis PD. Kita tidak PD karena sampai hari gini kita masih mengandalkan investasi luar. Indonesia berharap investasi asing. Papua Barat berharap investasi asing dan luar provinsi. Sementara dana otsus yang besar dilarikan banyak ke belanja fasilitas, perjalanan dinas. Sedikit dana yang diinvestasikan untuk pembangunan manusia karena “balik modal”nya sangat lama. Padahal, pembangunan manusia akan mengurangi ketergantungan kita pada faktor eksternal yang mempengaruhi kondisi ketenagakerjaan di Papua Barat.

brs-naker-papua-barat-1505082